Kelas Energi Matahari
Anak mengenal cahaya, listrik, penggunaan energi, dan rangkaian tegangan rendah melalui model sederhana yang didampingi fasilitator.
Bahas program ↗Alam · Anak · Energi Bersih
Kelas lingkungan, eksperimen energi bersih, dan kerja komunitas yang mempertemukan rasa ingin tahu anak dengan masa depan Nusantara.
Mengapa Nusa Daya
Kami mempertemukan pendidikan anak, pengetahuan lokal, pendamping komunitas, dan tenaga teknologi agar perubahan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Satu kegiatan bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: mengapa sungai berubah, bagaimana mangrove menjaga pesisir, ke mana listrik mengalir, atau apa yang membuat turbin berputar. Dari sana, anak belajar mengamati; orang dewasa menyusun dukungan yang lebih bertanggung jawab.
Lihat prinsip kerja ↓
Program utama
Program disusun sesuai lokasi, peserta, kapasitas pendamping, keselamatan, dan dukungan mitra. Tidak semua kegiatan tersedia di setiap wilayah.
Anak mengenal cahaya, listrik, penggunaan energi, dan rangkaian tegangan rendah melalui model sederhana yang didampingi fasilitator.
Bahas program ↗
Percobaan bilah, arah angin, putaran, dan pembangkitan energi membantu peserta membaca hubungan cuaca dengan teknologi.
Bahas program ↗
Belajar fungsi pesisir, mencatat kondisi tapak, mengenali bibit, dan mengikuti aksi tanam yang disusun bersama pendamping setempat.
Bahas program ↗
Peserta mengamati aliran air, tutupan pohon, sampah, serangga, dan tumbuhan lalu menyusun jurnal lapangan dengan bahasa mereka sendiri.
Bahas program ↗Sekolah atau komunitas memetakan kebutuhan pencahayaan dan literasi energi sebelum kajian teknis, ruang lingkup, serta tanggung jawab disepakati.
Bahas program ↗Guru, mahasiswa, insinyur, pegiat alam, desainer, dan komunikator mengambil peran sesuai kompetensi, kebutuhan program, dan supervisi.
Bahas program ↗
Belajar dari sekitar
“Teknologi hijau terasa dekat ketika anak dapat menyentuh modelnya, bertanya tentang angin dan matahari, lalu menghubungkannya dengan rumah dan lingkungan mereka.”
Setiap sesi memberi ruang untuk mengamati, mencoba, mencatat, bertanya, dan membagikan kembali temuan. Fasilitator tidak datang membawa semua jawaban; mereka membantu anak menemukan cara belajar yang aman dan relevan.
ESG yang dapat dijelaskan
ESG dipakai sebagai kebiasaan menimbang dampak lingkungan, hubungan dengan manusia, dan cara keputusan dipertanggungjawabkan.
Environment
Social
Governance
Alur kolaborasi
Sebelum kegiatan dimulai
Kegiatan dengan anak, komunitas, lingkungan, listrik, perangkat, atau kerja lapangan membutuhkan orang yang tepat, batas yang jelas, dan prosedur yang dipahami bersama.
Persetujuan orang tua atau pengasuh, orientasi fasilitator, rasio pendamping, dokumentasi, privasi, serta jalur pelaporan mengikuti kebijakan program.
Rangkaian, alat, instalasi, inspeksi, dan pekerjaan listrik mengikuti batas usia, kompetensi, supervisi, standar, serta kewenangan yang berlaku.
Aksi tanam, kunjungan tapak, material, limbah perangkat, dan klaim dampak perlu kajian, izin, metode, pemeliharaan, serta pemantauan yang sesuai.
Ambil bagian
Saya ingin berkontribusi
Ceritakan keterampilan, domisili, waktu yang tersedia, pengalaman bekerja dengan anak atau komunitas, dan jenis peran yang diminati.
Kirim minat relawan ↗ Pesan akan dibuka di WhatsApp. Pengajuan belum berarti kegiatan atau peran langsung disetujui.Pertanyaan awal
Bisa menyampaikan konteks awal mengenai lokasi, peserta, tujuan, fasilitas, waktu, penanggung jawab, dukungan yang tersedia, dan kebutuhan khusus. Kegiatan ditentukan setelah peninjauan kecocokan, kapasitas, risiko, serta ruang lingkup.
Tidak otomatis. Peran mengikuti seleksi, orientasi, kompetensi, supervisi, perlindungan anak, izin lokasi, dan prosedur keselamatan. Pekerjaan kelistrikan dilakukan tenaga yang memiliki kewenangan sesuai standar.
Tidak. Bentuk dukungan dapat berupa tenaga ahli, waktu mentor, material yang sesuai spesifikasi, akses pembelajaran, logistik, dokumentasi, atau pembiayaan. Setiap bentuk dukungan tetap memerlukan ruang lingkup, penanggung jawab, dan tata kelola.
Indikator, baseline, periode, sumber data, metode, keterbatasan, pihak yang meninjau, dan perubahan lingkup perlu dijelaskan. Foto kegiatan saja tidak cukup untuk menyatakan dampak jangka panjang.
Dari Nusantara, untuk masa depan